Rabu, 16 November 2011
Dilema Antara Ibu dan Istri..
Lalu apa yang seharusnya dilakukan masing-masing untuk mengurangi friksi-friksi yang pasti akan terjadi?
Untuk para suami, hal ini bisa menjadi dilema yang serba sulit. Apalagi jika sebelumnya dia sangat dekat dengan ibunya. Bahkan pilihan untuk tinggal di mana setelah menikah juga merupakan hal yang sulit, karena si Ibu pasti ingin anaknya tetap tinggal bersamanya meskipun telah menikah, sedangkan bagi si Istri tentu saja akan lebih nyaman dan senang jika bisa tinggal terpisah dari mertuanya. Jika tidak memungkinkan untuk tinggal di rumah sendiri, maka tinggal dengan orang tua sendiri akan lebih nyaman dari pada tinggal dengan mertua bagi si Istri. Tentu saja tinggal terpisah dari kedua orang tua dari kedua belah pihak adalah pilihan yang terbaik di antara semua pilihan, tetapi tidak semua orang bisa menyewa atau membeli rumah sebelum menikah kan?
Satu hal yang harus diingat oleh suami adalah jangan pernah membanding-bandingkan si Istri dengan Ibunya. Istri manapun tidak akan pernah suka dibanding-bandingkan seperti itu. Juga sebisa mungkin jangan terlalu memuji Ibunya secara berlebihan di depan si Istri. Ajarkan istri untuk selalu hormat dan patuh kepada orang tua, baik kepada bapak ibunya sendiri maupun kepada bapak dan ibu suami. Berikan contoh yang baik kepada si Istri. Dengan menghormati dan mematuhi orang tua istri, otomatis (jika si Istri memang tahu diri J) si Istri juga akan menghormati dan mematuhi orang tua suami. Perlu diingat, bahwa beda pendapat adalah hal yang paling alami, tetapi meskipun kita beda pendapat cara penyampaiannya tetap harus dengan rasa hormat dan sayang.
Untuk para Ibu yang anaknya telah menikah, perlu diingat bahwa anak yang telah menikah seharusnya sudah terlepas dari tanggung jawab kita. Sebagai orang tua, kita memang tetap wajib untuk mengarahkan dan memberikan nasehat yang baik untuk anak kita, tetapi cukup dalam bentuk masukan dan saran, sedangkan keputusan tetaplah di tangan anak. Bagi orang tua yang tinggal dengan menantunya, sebisa mungkin jangan mencampuri urusan anak, baik dalam hal mengatur rumah, masakan, merawat anak apalagi dalam mengatur keuangan rumah tangga. Dari pengalaman, jika orang tua terlalu mencampuri urusan anak yang sudah menikah, sering berakibat rusaknya rumah tangga si anak. Jauhkan diri juga dari sifat pamrih, karena merasa telah membesarkan dan merawat serta mendidik anak hingga dewasa, maka si anak wajib memberikan balas jasa kepada mereka. Merawat dan membesarkan anak sebagai titipan Tuhan adalah sudah menjadi kewajiban orang tua, bukan sesuatu yang bisa dimintakan balas jasa. Satu lagi yang perlu diingat si Ibu (ataupun si Bapak) bahwa menikahnya anak bukan berarti mereka kehilangan anak, malah sebaliknya anak mereka bertambah dengan anak menantu.
Buat si Istri, menikahi suami berarti juga harus mau menikahi apa yang dipunyai suami, termasuk orang tua dan keluarganya. Bahkan dalam Islam, seorang anak yang sudah menikah, jika dia laki-laki adalah milik Ibunya, sedangkan jika dia perempuan adalah milik suaminya. Meskipun hal ini juga tidak bisa diambil secara semena-mena bahwa istri adalah milik suaminya dan suaminya berhak melakukan apapun terhadap istrinya seperti kata si Ahmad Dhani (Aw, that’s a NO NO, Dear!!!). Seandainya baik si Ibu maupun si Istri membutuhkan barang yang sama pada saat yang bersamaan, dan jika si Suami hanya mampu untuk mendapatkan satu barang saja, maka yang lebih berhak memilikinya adalah si Ibu. Anggaplah orang tua suami seperti orang tua sendiri (memang tidak akan semudah mengucapkannya). Tapi perlahan-lahan pasti hal ini bisa tercapai. Malah di beberapa kasus, istri lebih cocok dengan ibu suami daripada dengan ibu sendiri karena beberapa anak perempuan memang kurang cocok dengan ibunya. Tentu saja hal ini juga bukan contoh yang baik. Yang terbaik adalah bisa bersahabat dengan ibu sendiri maupun ibu mertua.
Satu tips lagi bagi newly-married couple, jika ada sesuatu yang dianggap tidak baik dari pasangan, janganlah mengadu kepada orang tua sendiri, tetapi kepada orang tua pasangan kita. Hal ini untuk menghindari campur tangan orang tua seperti yang telah dibahas di atas. Sudah pasti orang tua akan membela anak kandungnya. Dengan mengadukan pasangan ke orang tuanya diharapkan mereka bisa menasehati si anak untuk menjadi lebih baik. Tentu saja, sekali lagi, mengadukan di sini dengan sewajarnya, tetap sopan dan hormat, tanpa bermaksud untuk menjelek-jelekkan dan dengan niat tulus untuk kebaikan si pasangan.
Semua hal di atas akan dapat tercapai jika didukung oleh sikap ikhlas dalam melakukan segala hal, jauhkan diri dari sikap iri, dengki, pamer, sombong, arogan, serta bekali diri dengan iman dan takwa. Goodluck to ALL THE NEWLY-WED COUPLES!!
Jangan Sampai Dosa Besar Politik TNI/ABRI/POLRI terulang lagi..
Beberapa waktu setelah kerusuhan Mei 1998 yg lalu ABRI sangat gencar memasang spanduk yg bertuliskan “Damai itu indah.” ABRI ingin mengambil hati masyarakat dgn memperlihatkan seolah-olah telah mengambil posisi sebagai penengah dan pereda konflik. Tetapi masyarakat telah mengetahui betul bagaimana posisi dan peran yg dimainkan ABRI selama ini. ABRI telah banyak melakukan dosa-dosa politik. Dari kalangan masyarakat muncul spanduk sebagai jawaban sekaligus kritikan. Spanduk itu bertuliskan “Damai itu indah jika ABRI tidak berpolitik.” Sejarah telah mencatat betapa peran ABRI selama itu telah benar-benar melenceng jauh dari rel yg semestinya. Lemahnya sikap politik ABRI menjadikannya sebagai alat penguasa utk melindungi dan mempertahankan kekuasaanya apalagi kekuasaan saat itu terpusat kepada seorang presiden. Soeharto sebagai Presiden saat itu bak raja yg rakyatnya semua harus tunduk kepada kemauannya. Individu kelompok atau organisasi yg berseberangan dan menentang secara terang-terangan disapu bersih oleh sang penguasa. Tokoh-tokoh Islam yg gigih menentang azas tunggal Pancasila tidak lepas dari bidikannya. Peristiwa Tanjung Priuk adl sejarah yg tidak terlupakan yg dgn kejamnya aparat keamanan membantai tokoh-tokoh Islam yg militan memegang teguh agamanya. Penguasa dan aparat keamanan waktu itu lbh menganakemaskan umat agama yg minoritas daripada umat Islam yg mayoritas. Belum lagi berbagai peristiwa lainnya di berbagai penjuru tanah air bangkitnya rakyat dan berontaknya beberapa wilayah utk memisahkan diri yg didorong oleh ketidakadilan penguasa dalam membagi kue kemerdekaan juga menjadi catatan merah perjalanan politik ABRI krn kebijakannya yg berlebihan di dalam mendukung dan mempertahankan kepentingan penguasa.
Selain itu langkah blunder percaturan politik ABRI yg hanya membela salah satu partai menambah lembaran hitam dalam sejarahnya. ABRI yg seharusnya mengayomi seluruh kelompok masyarakat kenyataannya hanya mengayomi dan mendukung kepentingan partai milik penguasa yaitu GOLKAR. PPP dan PDI benar-benar bagaikan anak tiri yg selalu ditampar dimarahi dan dicaci maki oleh ibu tirinya. Malang nian nasibmu oh anak tiri diusir tidak diakui pun enggan apalagi disayang. Alhasil perjuangan politik tokoh-tokoh Islam yg akan memperjuangkan nilai-nilai Islam terhambat krn mayoritas umat Islam takut memilih partai yg berseberangan dgn kepentingan penguasa.
Kenyataan pahit itu menjadi pengalaman berharga bagi rakyat Indonesia terutama umat Islam yg selama ini dipinggirkan. Dengan jatuhnya rezim Soeharto memasuki orde reformasi ABRI diharapkan mereformasi dirinya agar kembali kepada jati dirinya yg asli. Slogan back to basic jangan hanya menjadi slogan semata tetapi harus direalisasikan. Masyarakat mendambakan kembali saat-saat mesra di kala senang dan sedih bahagia dan menderita hidup bersama dgn harmonis seperti ketika merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Masyarakat menaruh harapan besar akan reformasi itu. Dikuranginya jatah kursi fraksi TNI/POLRI dalam badan legislatif dan terpisahnya POLRI dari tubuh TNI merupakan angin segar sebagai langkah awal yg baik bahwa reformasi itu telah dimulai. Peran politik TNI/POLRI mulai dikurangi. POLRI yg selama ini sangat militer diharapkan mengubah perangainya menjadi aparat sipil yg lbh merakyat. Tergusurnya tokoh-tokoh potensial TNI yg pada masa orde baru dianakemaskan juga menjadi faktor penting menuju reformasi yg lbh cepat.
Belum lama kita menunggu harapan besar itu tiba-tiba kita dikejutkan wacana baru dimungkinkannya TNI/POLRI memiliki hak memilih atau dipilih. Apakah TNI/POLRI akan kembali memperkuat partai milik penguasa? Ada apa di balik munculnya wacana itu? Politikus muslim harus berhati-hati dalam menentukan sikap. Jangan sampai reformasi TNI/POLRI yg selama ini kita harapkan menjadi buyar dan kembali ke suatu keadaan yg tidak menguntungkan kepentingan rakyat terutama perjuangan umat Islam. Karena TNI/POLRI adl dari rakyat oleh rakyat dan utk rakyat maka TNI/POLRI harus berdiri di tengah-tengah rakyat. TNI/POLRI harus mengayomi dan melindungi rakyatnya tanpa membeda-bedakan partai golongan suku ras dan agama. TNI/POLRI yg kita harapkan adl TNI/POLRI yg telah tobat nasuha. TNI/POLRI tidak boleh mengulangi dosa-dosanya seperti yg lalu.
Masyarakat Desa, Penjaga Semangat Gotong Royong..
Pancasila adalah Gotong Royong
Bung Karno menyampaikan, lima sila boleh diperas sehingga tinggal 3 saja, yaitu (1) Sosio-nasionalisme, (2) Sosio-demokrasi, dan (3) Ketuhanan. Dan jika diperas yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah satu perkataan, Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”. Alangkah hebatnya! Negara Gotong-Royong!
“Gotong-royong” adalah paham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan”.
Membangun Peradaban Bangsa
Membangun peradaban sebuah bangsa harus dilakukan dengan membangun budi pekerti serta membangkitkan semangat kebersamaan. Seperti yang telah dilakukan oleh para agamawan dan tokoh-tokoh generasi pendiri NKRI. Menurut Bung Karno, Indonesia bila ingin kembali berjaya seperti Sriwijaya dan Majapahit tidak bisa hanya dilakukan oleh satu golongan saja, tetapi harus dilakukan secara bersama oleh semua komponen bangsa dengan melibatkan masyarakat.
Nilai-nilai dasar Pancasila sangat penting untuk selalu dimaknai kembali, karena generasi di masa mendatang belum tentu bisa menghayati Pancasila sebagai perekat dasar yang mempersatukan Indonesia.
Gotong Royong yang sudah Terpinggirkan
Indonesia merdeka karena adanya semangat gotong royong, kebersamaan dan bahu membahu. Setelah reformasi semangat tersebut seperti agak ditinggalkan. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan uang atau dana sebagai tolok ukur yang cukup untuk partsipasi dalam kegiatan kemasyarakatan.
Di beberapa desa bahkan secara nyata uang menjadi perusak semangat gotong royong warga desa. Kehadiran dalam sebuah kebersamaan pun terkadang diwakili dengan uang. Tidak hadir ronda cukup bayar denda. Tidak hadir dalam pertemuan cukup titip uang iuran. Tidak ikut kerja bakti cukup memberi sumbangan.
Program pemerintah dengan bantuan beras miskin (raskin) yang kurang tepat sasaran dan dilaksanakan tanpa sebuah kebijaksanaan dalam permusyawaratan telah menjadikan alasan beberapa kelompok masyarakat yang tidak mendapatkan raskin, sedang mereka merasa miskin, akhirnya tidak mau lagi ikut kerja bakti. ”Mereka yang dapat raskin aja yang suruh kerja bakti,” katanya.
Dalam banyak peristiwa terorisme akhir-akhir ini salah satu penyebab tidak berjalannya pengawasan masyarakat adalah sudah mulai lunturnya semangat gorong royong. Dengan kurangnya semangat gotong royong, maka masyarakat menjadi tidak peka terhadap sesuatu yang terjadi di lingkungannya. Gotong royong adalah pola pertahanan terbaik dalam masyarakat, gotong royong mampu menjadi alat komunikasi yang efektif.
Yang masih diharapkan untuk terus menjaga kegotongroyongan adalah masyarakat desa. Semoga desa mampu menjadi penjaga pilar kejayaan Pancasila dengan tetep menjaga semangat kegotongroyongan di dalam kehidupan bermasyarakatnya.Diskriminasi Itu Masih Ada..
Pihak Manajemen RS sendiri mengklaim tidak terjadi pemecatan terhadap Wine, tapi menyatakan yang terjadi adalah Wine mengundurkan diri. Dari Wine seniri menyatakan dia mengundurkan diri karena terpaksa diakibatkan pelarangan dari pihak Manajemen Rumah Sakit itu sendiri. Kalau melihat kasus tersebut, kita bisa bijak melihat mana yang benar dan mana yang salah. Tentunya tidak akan ada asap kalau tidak ada api dan selalu pihak yang lemahlah selalu dirugikan baik secara materiil (kehilangan pekerjaaannya) dan moril (hak asasinya dalam berjilbab)
Balasanpun terjadi pula terhadap Rumah Sakit tersebut yang nantinya bisa jadi akan membawa dampak kerugian besar bagi Rumah Sakit bersangkutan. SMS berantai yang beredar telah mengajak penerima sms untuk memboikot RS tersebut dan menyebarkan kembali sms tersebut sebanyak-banyaknya kepada yang dikenalnya. Entah siapa yang pertama kali menyebarkannya, tapi yang pasti bukan dari Mbak Wine sendiri, karena dalam bagian terakhir sms itu diberikan sumber beritanya dari salah satu koran terkenal edisi 31 Oktober 2008 yang berjudul Pemecatan Perawat Berjilbab Diminta Dicabut.
Saat hampir di seluruh negara-negara di belahan bumi ini mulai menghilangkan diskriminasi terhadap wanita muslim berjilbab, bahkan dalam even pertandingan/perlombaan olahraga tingkat internasionalpun sudah tidak mempermasalahkan atlet berjilbab, sungguh ironis di tanah air kita masih terdapat perlakuan diskriminasi terhadap kaum perempuan muslim ini. Saya jadi teringat di awal-awal tahun 1990an, di mana kasus-kasus seperti ini masih marak terjadi di tanah air ini. Setelah berjuang berat dan sekuat mungkin dmuslimah di negeri ini akhirnya bisa bernapas lega, karena pelarangan-pelarangan tersebut sudah mulai hilang dan sudah diatur dalam undang-undang negara ini. Maka sangat disesalkan ternyata kasus ini masih ada di negeri ini, dengan tanpa tanpa bermaksud menyinggung SARA maupun mendiskreditkan umat tertentu. Marilah kita hilangkan diskriminasi seperti ini tidak hanya untuk kaum minoritas tapi juga untuk kaum mayoritas.Apakah Kita Sosok Pemuda Harapan Bangsa???
Sumpah Pemuda adalah momen penting bagi perubahan bangsa Indonesia. Generasi muda saat itu menjadi pelopor persatuan nasional dalam simbol tanah air, kebangsaan, dan bahasa persatuan melalui Sumpah Pemuda. Sejarah bangsa ini selalu diwarnai oleh pemuda sebagai komponen utama. Pemuda memiliki semangat tinggi untuk melakukan perubahan. Energi positif itu terpancar ketika mereka melihat suatu kejanggalan pada bumi pertiwi. Pola pikir dan daya analisis yang tinggi terhadap masalah bangsa membuat mereka merasa terpanggil untuk melakukan percepatan perbaikan tanah air menuju ke arah yang lebih baik. Lalu, melihat realita sosial saat ini, apa yang bisa mereka lakukan?. Persaingan global yang semakin panas ditambah pesatnya perkembangan dunia teknologi membuat ekonomi kita semakin jauh tertinggal. Tayangan televisi yang tidak mendidik justru semakin marak disiarkan. Banyak generasi muda kita yang terjerumus ke dalam lembah kebodohan hanya karena tidak mampu memilah tayangan yang pantas ditonton.
Melihat kenyataan yang terjadi saat ini, maka dibutuhkan sosok pemuda yang dapat melakukan akselerasi perbaikan bangsa. Akselerasi tersebut dapat terwujud melalui tindakan nyata dan peran yang dapat mereka berikan. Lalu, peran seperti apakah yang dapat membawa kita menuju ke gerbang kesejahteraan ?. Tidak adanya ekonom brilian yang bergerak bersama di negeri ini untuk dapat memahami, mencerna dan menemukan jalan keluar bagi krisis ekonomi merupakan salah satu penyebab kemunduran bumi pertiwi. Begitu juga dimensi-dimensi lain dimana masing-masing pribadi bergerak sendiri untuk memenuhi kebutuhan dan keuntungan pribadi. Mereka memang manusia-manusia brilian dan jenius tetapi seperti lidi yang berserakan, tidak terorganisasi menjadi kekuatan bangsa di bawah sebuah kepemimpinan yang solid. Kepemimpinan yang kuat dan baik tidaklah menjamin semua kesulitan kita selesai, tapi kepemimpinan yang kuat dan baik memastikan bahwa semua solusi strategis dan teknis yang kita rumuskan dapat bekerja secara benar dan efektif. Tapi, itu pulalah yang menjadi kunci masalah dimana semua berakar dari sana : krisis akhlak dan kepemimpinan.
Jika kita menyusuri sejarah bangsa ini, kita akan bertemu generasi 1900-an yang mempelopori kebangkitan nasional dengan terbentuknya Boedi Oetomo sebagai organisasi yang boleh dikatakan sebagai titik awal terbentuknya organisasi yang bersifat nasional. Dilanjutkan dengan perjuangan generasi 1928 yang berhasil mempelopori persatuan nasional melalui Sumpah Pemuda. Lalu, kita akan bertemu dengan generasi 1945 yang mempelopori perjuangan kemerdekaan dan generasi 1966 yang berhasil mengakhiri rezim Orde Lama. Semua angkatan itu silih berganti sampai datang angkatan 1998 yang mampu menumbangkan rezim Orde Baru. rangkaian sejarah ini membuktikan bahwa peran pemuda sangat dinantikan untuk percepatan perbaikan bangsa. Mereka bersatu dengan meluruskan akhlak dan niat untuk menuju perbaikan Indonesia. Mereka bergerak di bawah kepemimpinan yang jelas dan terarah. Mereka bersatu padu seperti seikat sapu lidi yang mampu membersihkan sampah-sampah yang berserakan.
Indonesia membutuhkan peran kita saat ini. Kita sebagai mahasiswa misalnya, menjadi profesional di bidang kita adalah salah satu cara yang paling efektif. Berkumpul bersama dengan pemuda lain yang memiliki visi searah lalu kita membentuk sebuah gerakan nonanarkis yang tersusun secara rapih. Lalu kita berusaha menuju ke sektor-sektor penting yang menjadi pusat pengambil keputusan atau sektor yang menguasai hayat hidup bangsa ini. Kita bergerak bersama dengan tujuan untuk memperbaiki bangsa ini. Kita bergerak dibawah arahan yang jelas. Karena itu kita butuh pemimpin yang mampu menjalankan fungsi pembangkit kekompakan agar pergerakan kita tidak mengalami perpecahan intern. Selain itu, kita butuh integritas akhlak dan kepribadian. Sikap-sikap ini dapat dilatih dengan cara aktif di organisasi seputar kampus atau lingkungan masyarakat. Banyak ilmu yang dapat ditimba di sana. Pendewasaan pikiran, peningkatan daya analisis, dan kemampuan untuk bekerja dalam tim dapat kita peroleh. Semakin strategis jabatan dalam organisasi maka semakin banyak hal yang dapat diperoleh untuk pengembangan diri dan wawasan.
Pemuda adalah harapan bangsa. Kelak mereka yang akan menahkodai bangsa ini. Semua tergantung dari seberapa besar pengorbanan yang akan mereka persembahkan. Kita hanya bisa berharap semoga mereka mampu memaksimalkan kinerja mereka masing-masing untuk memajukan bangsa ini.Prasangka Buruk, Penyakit Orang Indonesia..?
Salah satu penyakit lain dari kebanyakan orang Indonesia adalah cenderung mempunyai prasangka buruk. Prasangka buruk ini biasanya disangkakan pada orang yang mempunyai prestasi yang lebih, apakah itu lebih kaya, lebih pintar, atau pun lebih berkuasa. Prasangka buruk merupakan penyakit hati yang seharusnya disingkirkan dari hati bangsa Indonesia.
Prasangka buruk merupakan manifestasi dari ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu. Misalkan begini, dalam lomba lari, pasti ada pemenangnya yang sudah berhasil merenggut prestasi karena berlari lebih cepat dari lawan-lawannya. Seharusnya peserta lari lain yang belum berhasil memenangkan pertandingan lari, bersikap sportif dan menerima kekalahan dengan lapang dada. Tetapi, jamak di Indonesia, bahwa peserta yang kalah tersebut susah sekali untuk bersikap sportif, tetapi justru memunculkan penyakit prasangka buruk terhadap sang pemenang. Prasangka buruk ini biasanya disertai dengan tuduhan-tuduhan yang sering kali tidak berdasar. Apakah itu berupa tuduhan kecurangan, wasitnya tidak adil, menggunakan obat doping, bahkan kadang-kadang di luar nalar seperti pemenang tersebut menggunakan jasa jin atau makhluk halus.
Dengan terus dibebani prasangka buruk, maka hati kita menjadi hitam karena terus menerus dilanda kemarahan yang tak keruan juntrungannya. Dengan perasaan marah dan prasangka buruk yang terus menerus, akhirnya menimbulkan kinerja yang tidak produktif. Lambat laun, prestasi atau kinerja yang dilakukan pun semakin lama semakin terpuruk.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menguasai perasaannya untuk selalu bersikap sportif, menerima kekalahan dan selalu mencoba mengedepankan prasangka baik. Jika prasangka buruk ini terus-menerus ditonjolkan, lambat laun akan memicu penyakit kejiwaan yaitu berupa perasaan ketakutan atas segala sesuatu, atau sering disebut sebagai paranoid. Perasaan prasangka buruk juga menimbulkan ketakutan yang berlebihan, yang dalam psikiatri dinamakan schizoprenia.
Dengan terus melakukan prasangka buruk, tentunya bila dibiarkan, bangsa Indonesia akan berat sekali untuk menjadi bangsa yang besar. Karena yang dominan dalam pikiran adalah prasangka-prasangka buruk yang berlebihan. Padahal, hal tersebut barulah merupakan sebuah prasangka atau tuduhan yang sering tidak jelas dan tidak mendasar.
Prasangka buruk terhebat yang sekarang melanda Indonesia, adalah prasangka buruk terhadap pemimpin bangsa ini, yaitu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Mengherankan memang, meski pun SBY berhasil mendapatkan kemenangan demokrasi selama dua periode, bahkan dengan jumlah suara yang sangat signifikan. Namun demikian, tetap saja tuduhan-tuduhan mengalir deras, apakah itu berupa ketidaktegasan, kecepatan membuat keputusan, bahkan sampai hal-hal lain yang remeh temeh.
Presiden SBY seakan menjadi sasaran tembak dari prasangka buruk masyarakat. Presiden dicitrakan sebagai seseorang yang ma’sum alias bebas dari kesalahan. Padahal sebagai manusia, meski pun menjadi pemimpin negara, tidak akan lepas dari kesalahan. Dengan demikian, masyarakat selalu mengharapkan bahwa SBY memenuhi kehendaknya. Apabila tidak, maka SBY diprasangkakan sudah melakukan kesalahan dan terus dihujat.
Target prasangka buruk masyarakat, tidak hanya ditujukan pada Presiden SBY, tetapi juga ditujukan pada pihak-pihak lain yang dianggap berhasil. Apabila ada pengusaha yang sukses, apalagi di tataran nasional, maka tuduhan pertama adalah kolusi atau kongkalingkon, meski pun belum ada bukti kebenarannya. Apabila ada tetangga yang kaya, maka biasanya dituduh memelihara jin atau tuyul, melakukan korupsi, atau pun melakukan kejahatan. Padahal biasanya, tuduhan itu muncul sebagai rumor atau gosip saja.
Jika memang petuduh (orang yang dituduh) itu benar-benar melakukan kejahatan, memang seharusnya diselesaikan di ranah hukum. Tetapi yang biasanya terjadi, meski pun tidak sampai ada keputusan hukum, tuduhan dan prasangka buruk tetap dianggap sebagai suatu “kebenaran”.
Padahal, berprasangka baik akan sangat kondusif untuk kemajuan bangsa ini. Bangsa ini seperti seorang anak, yang apabila selalu diberikan prasangka baik serta diberikan motivasi sertai penilaian yang baik. Anak tersebut akan berkembang menjadi orang yang baik. Tetapi bila sang anak itu terus menerus dituduh dan disangkakan keburukan terus menerus, lambat laun sang anak ini pun menjelma menjadi seorang anak yang berjiwa buruk.
Apakah kita akan membiarkan penyakit prasangka buruk ini terus menerus melanda bangsa Indonesia? Ataukah kita akan berusaha mencoba selalu mengedepankan prasangka baik, demi untuk kebaikan bangsa kita. Semua perubahan ada di hati kita.
Pemberian Handphone Kepada TKI Oleh Pemerintah..
Lalu sekarang tindakan pemberian HP tersebut apakah tindakan yang efektif dan dapat menghentikan tindak kekerasan terhadapa TKI? Saya rasa tidak bagaimana bila HP tersebut dirampas oleh majikannya biarpun pemerintah sudah menetapkan peraturan bahwa HP tersebut tidak boleh diambil apalagi dirampas oleh majikannya. Sapa yang tahu bila itu terjadi apakah kita dapat memantau terus apa yang terjadi pada TKI tersebut hingga tahu pasti bahwa HP tersebut tidak dirampas. Ada lebih baiknya jika pemerintah melakukan tindakan mengadakan pengecekan setiap beberapa kepada tempat TKI tersebut bekerja. Petugas pemeriksa tersebut harusalah orang dari pemerintah Indonesia jangan dari negara tempat TKI itu bekerja karena bisa saja bekerja sama dengan majikan TKI tersebut atau ada kongkalingkong. Petugas pemeriksa tersebut harusalah orang yang bersih tidak menerima sogokan dan haruslah orang yang bisa dipercaya dan memastikan bahwa TKI yang dia cek aman dan tidak mengalami kekerasan fisik apapun. Sehingga dengan tindakan seperti itu dapat dipastikan bahwa TKI aman.
TKI pun jika ingin bekerja menjadi TKI harus mendaftar kepada lembaga pemerintah yang bisa memberi pertanggung jawabannya dengan keselamatan mereka dan berbadan hukum. Lembaga tersebut harus mendaftarkan TKI mereka dengan detail sehingga petugas pemeriksa tersebut dapat dengan mudah memeriksa keberadaan TKI tersebut, sehingga mungkin dengan tindakan seperti ini dapat memperkecil TKI yang mengalami tindak kekerasan.
Beda Agama??? Bisa Kawin ga???
Perkawinan di Indonesia diatur oleh UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Berdasarkan UU tersebut perkawinan di definisikan sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Oleh karenanya dalam UU yang sama diatur bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu serta telah dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Namun bagaimana dengan perkawinan beda agama. Perkawinan beda agama bukanlah perkawinan campuran dalam pengertian hukum nasional kita karena perkawinan campuran menurut UU Perkawinan disebut sebagai perkawinan yang terjadi antara WNI dengan WNA. Akan tetapi perkawinan beda agama di masyarakat sering pula disebut sebagai perkawinan campuran. Untuk memudahkan, tulisan ini hanya akan menggunakan istilah perkawinan beda agama
UU Perkawinan sendiri penafsiran resminya hanya mengakui perkawinan yang dilangsungkan berdasarkan agama dan kepercayaan yang sama dari dua orang yang berlainan jenis yang hendak melangsungkan perkawinan. Dalam masyarakat yang pluralistik seperti di Indonesia, sangat mungkin terjadi perkawinan diantara dua orang pemeluk agama yang berlainan. Beberapa diantara mereka yang mempunyai kelimpahan materi mungkin tidak terlampau pusing karena bisa menikah di negara lain, namun bagaimana yang kondisi ekonominya serba pas-pasan. Tentu ini menimbulkan suatu masalah hukum
Ada dua cara dalam menyikapi perkawinan beda agama ini:
Pertama: Salah satu pihak dapat melakukan perpindahan agama, namun ini dapat berarti penyelundupan hukum, karena sesungguhnya yang terjadi adalah hanya menyiasati secara hukum ketentuan dalam UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Namun setelah perkawinan berlangsung masing-masing pihak kembali memeluk agamanya masing-masing. Cara ini sangat tidak disarankan.
Kedua: Berdasarkan Putusan MA No 1400 K/Pdt/1986 Kantor Catatan Sipil diperkenankan untuk melangsungkan perkawinan beda agama. Kasus ini bermula dari perkawinan yang hendak dicatatkan oleh Ani Vonny Gani P (perempuan/Islam) dengan Petrus Hendrik Nelwan (laki-laki/Kristen).
Dalam putusannya MA menyatakan bahwa dengan pengajuan pencatatan pernikahan di KCS maka Vonny telah tidak menghiraukan peraturan agama Islam tentang Perkawinan dan karenanya harus dianggap bahwa ia menginginkan agar perkawinannya tidak dilangsungkan menurut agama Islam. Dengan demikian, mereka berstatus tidak beragama Islam, maka KCS harus melangsungkan perkawinan tersebut.
Nah putusan ini, secara sekilas hanya berlaku bila perempuan yang beragama Islam dan Laki-laki yang beragama Nasrani hendak melangsungkan perkawinan. Lalu bagaimana dengan bila sebaliknya? Secara argumentum a contrario maka KUA wajib melangsungkan perkawinannya, karena perempuan yang beragama Nasrani tidak lagi menghiraukan statusnya yang beragama Nasrani. Oleh karena itu melakukan penundukkan hukum secara jelas kepada seluruh Hukum Islam yang terkait dengan perkawinan.
Dengan ini, dari semula pasangan yang berbeda agama tidak perlu melakukan penyelundupan hukum dengan mengganti agama untuk sementara, namun bisa melangsungkan perkawinan tanpa berpindah agama.
IPTEK VS Kemiskinan..
Kemajuan IPTEK perlu diimbangi dengan kemajuan IMTAQ. keduanya merupakan suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Kehidupan sosial masyarakat Indonesia contohnya. tingkat kesejahteraan yang terus berusaha ditingkatkan oleh berbagai program pemerintah merupakan dorongan tidak langsung dari perkembangan IPTEK. segala sesuatunya sudah serba canggih, namun masih ada masyarakat yang belum dapat memanfaatkan IPTEK bahkan sangat sulit untuk menggunakan fasilitas yang didukung oleh implementas IPTEK.
IPTEK pada dasarnya diciptakan dan terus dikembangkan oleh manusia adalah bertujuan untuk membantu kita mempermudah segala macam kegiatan. baik itu kegiatan yang bersifat kewajiban maupun sukarela. kemiskinan di negeri ini juga tidak lepas dari peran IPTEK. Kemiskinan memang menjadi masalah turun temurun di sebuah negara berkembang, namun sebetulnya kita dapat mempergunakan berbagai macam perkembangan ilmu pengetahuan. Apabila IPTEK dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat di Indonesia, maka kemungkinan besar generasi muda kita akan lebih mudah untuk menerima berbagai macam informasi dari manapun, sehingga wawasan akan bertambah. Itulah awal dimana generasi penerus bangsa akan menjadi tulang punggung masa depan Indonesia nantinya. maka perlulah pemerintah kita menyebarluaskan dan memeratakan fasilitas belajar yang menunjang perkembangan IPTEK.
Alasan Pria suka ketrempat Pelacuran..
If I were a wife, I'll definitely buy that book! Beneran, kalau saya seorang isteri saya harus beli buku itu, saya rasa itu harus jadi buku panduan para isteri untuk belajar gimana "jadi pelacur" untuk suami mereka (jika isteri-isteri sadar akan kekurangan mereka, keteledoran mereka dalam melayani suami, kekurang-pedulian mereka terhadap perasaan dan keinginan suami mereka, dan jika para isteri ini mau mengubah keadaan pernikahan mereka yang sudah pada hambar).
Coba lihat penampilan pelacur, mereka bersolek, pake baju minim, pake parfum "keterlaluan" wangi, seksi, mempesona, menggairahkan, genit, menggoda! Lalu si pria yang diperlakukan begitu tentunya nggak mau cepet-cepet ilang kesempatan, jadi dinikmati sepuasnya, maunya disenangkan lama-lama, nggak mau rugi, bo.
Banyak isteri-isteri yang mengeluh kepada saya katanya suami mereka menurutnya udah nggak cinta lagi, mereka merasa diperlakukan seperti sex-doll aja atau sex-slave. Kalau "main" maunya cepet-cepet, kalau "ngajak" suka buru-buru atau quicky, kalau udah "gituan" langsung mendengkur.
Nah, gantian pria-pria juga memberikan jawabannya, katanya justru isteri mereka yang nggak ngertiin mereka, tiap-tiap harinya mukanya cemberut dan sikapnya nggak manis, kalau pas "main" nggak pernah mengeluarkan perkataan yang membangkitkan; kalau "gituan" nggak mesra, nggak romantis, nggak ekspresif. Pake daster melulu, nggak berdandan menarik, wangi, atau menggairahkan.
Hari-harinya cuman ngurus pekerjaan dan anak melulu tanpa menjadikan suami mereka figur istimewa yang dibutuhkan, dilayani dengan sepenuh hati. Melayani cuman karena memenuhi keinginan suami, setengah hati, ogah-ogahan, maunya cepet selesai. Masih disertai mulutnya yang kalau nyemprot pedesnya sampai nusuk ke tulang-tulang, sehingga mematikan gairah seks pria. Jadi akhirnya sang suami-suami ini juga tidak merasakan kenyamanan dalam berhubungan. Para isteri pikir suami mereka nggak punya perasaan, sehingga kalau ngomong asal keluar, nggak dipikir, sehingga terbawa juga sampai dalam ati dan perasaan pahitnya terbawa sampai di ranjang.
Akhirnya para pasangan-pasangan ini merasa hambar dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Mereka saling bertanya dalam hati: "Dimanakah romantika cinta itu?" "Apakah aku telah menikahi orang yang salah?" "Apakah Tuhan sebenarnya sudah mempersiapkan orang lain untuk menikahiku?" "Apakah aku harus bercerai?"
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering diajukan oleh pasangan-pasangan saat mereka masuk dalam gejolak rumah tangga, saat romantika bercinta kelihatannya sudah padam dan tidak mungkin dibangkitkan kembali.
Anda tidak menikahi orang yang salah! Coba ingat bagaimana Anda meluap-luap dengan perasaan cinta yang membara, bagaimana Anda tidak peduli dengan larangan orang tua, bagaimana tiap hari Anda tidak sabar untuk berkencan dengannya, tidak tahan ingin menggandeng tangannya, tidak sabar menanti hari pernikahan, tidak sabar menanti para tamu undangan pulang ke rumah mereka agar Anda masuk ke dunia fantasi hanya berdua dengannya tidak ada yang lain?
Kemudian datanglah rutinitas rumah tangga yang mengambil keintiman kalian berdua. Seharusnya Anda harus "waspada" dengan kehadiran anak-anak dan urusan dengan mereka sehari-hari, waspada terhadap aktivitas rumah tangga yang menyita jam-jam keintiman Anda, pekerjaan yang menyita, kebutuhan uang yang tidak lebih penting daripada keintiman berdua, kebiasaan kenyamanan berdua yang seharusnya dipertahankan agar tidak menjadi suatu kebiasaan rutin yang membosankan.
Pernikahan membutuhkan ekstra pekerjaan! Jika Anda ingin mendapatkan kepuasan istimewa dari suatu hubungan, Anda harus mengerjakannya dengan baik pula. Sebagaimana Anda ingin menjadi sukses di dunia bisnis, Anda akan melakukan segalanya untuk mencapai target itu dengan segenap kekuatan Anda, mendobrak halangan-halangan yang menghadang, menyingkirkan waktu-waktu lain yang tidak terlalu berharga dibanding dengan kesuksesan, dan berjuang melakukan segalanya agar cita-cita Anda yang satu ini dapat diraih.
Apalagi jika Anda ingin memperoleh pernikahan "five star", Anda harus menyajikan menu high class, membuat tempat tidur berkelas hotel bintang lima, menyajikan service yang memuaskan dan menghormati client Anda selayaknya yang patut diterima oleh seorang yang datang dengan mengharapkan pelayanan high class. Jika Anda menyediakan menu five star, maka Anda layak mendapatkan upah yang seimbang, yaitu pernikahan five star!
Isteri-isteri, jangan lupa, "be a bitch" for your husband!" Jangan takut ditertawakan, jangan takut memulainya, jangan malu menyatakannya, jangan malu untuk menggodanya, jangan gengsi untuk melayaninya, lakukanlah lebih baik daripada sebelumnya. Anda segera akan mendapatkan tip tinggi dan "client" Anda akan suka berkunjung dan menjadi pelanggan tetap di "hotel" Anda.
Virginitas Remaja TERNODA.. salah siapa????
Virginitas sangat dekat hubungannya dengan melakukan hubungan seks. Menjaga virginitas berarti menjaga hubungan pergaulan dengan lawan jenis agar nggak kebablasan. Virgin enggaknya seseorang bukan hanya pada kondisi selaput dara saja, tapi sudah pada perilaku seksual dia yang menjurus.
Wah…kayaknya hot banget neh bahasan kita kali ini. Baca terus sampai tuntas, yuukkkk!
Virginitas, bukan tentang selaput ‘gadis’
Virginitas bukan melulu pada utuh tidaknya selaput dara yang menunjukkan kegadisan seorang cewek. Tapi virginitas adalah kondisi mental dan akhlak seseorang dalam perilaku seksualnya. Jadi pihak cowok pun juga bisa dikatakan nggak virgin kalo ia sudah mulai berani melakukan seks bebas sebelum nikah.
Ada banyak kasus selaput dara robek karena aktivitas olahraga atau naik sepeda. Ada juga kasus gonta-ganti pasangan atau pacar tapi selaput dara masih utuh. Nah, di antara dua kasus itu manakah yang masih virgin dan suci?
Jelas yang pertama dong. Meskipun selaput dara sudah robek, tapi kasus pertama menunjukkan kesucian seorang gadis. Tentu saja dengan catatan selama dia bukan pengikut aliran gaul bebas loh yah. Sedangkan kasus kedua, biar kata dia ke mana-mana membual suci hanya karena selaput dara utuh, itu juga masih sangat bisa dipertanyakan. Selama dia beraktivitas mendekati zina alias penggiat pacaran, maka kesucian dia hanya sebatas lip service semata. Omong kosong.
Begitu juga dengan halnya para cowok. Jangan karena kamu nggak punya selaput dara, bisa seenaknya saja main seruduk sana-sini tanpa aturan. Emangnya kamu ayam? Meskipun banyak orang bilang bahwa resiko cowok cenderung gak ada karena gak meninggalkan bekas semisal hamil kayak kasus pada cewek, tapi ingatlah bahwa dosa yang kamu tanggung juga sama besarnya. Jadi mending kamu berpikir ribuan kali sebelum melakukan tindakan bodoh dengan melakukan seks sebelum nikah.
….Berpikirlah ribuan kali sebelum melakukan tindakan bodoh dengan melakukan seks sebelum nikah….
Jadi bagi kamu kaum cowok, kudu juga tetap harus mempertahankan virginitas hingga nanti saatnya tiba. Kapan tuh? Yaitu kalo kalian sudah berani mengucapkan akad nikah di depan pak penghulu. Okay dong yah?
Virgin ternoda, salah siapa?
Jawabannya adalah salah semua. Lho, kok?
Rentannya virginitas pada remaja saat ini, gak peduli cewek ataukah cowok, bukan melulu urusan individu yang lemah iman. Masyarakat yang lepas control dan individualis juga menjadi pemicu maraknya seks bebas di kalangan remaja. Sebagai contoh adalah seorang pemilik kost-an yang cenderung permisif (serba boleh) tentang aturan berkunjung tamu putra ke kost putri. Mereka bisa pura-pura tidak tahu bila mendapati hal tersebut di depan mata, hanya karena supaya tempat kost-nya laku. Begitu juga dengan minimnya kepedulian dari masyarakat sekitar. Alih-alih menegur apalagi menggerebek pelaku zina, mereka hanya ambil jalan pintas ‘yang penting nggak mengganggu aku aja’.
….Remaja yang dasarnya lemah iman ini semakin bebas aja mau melakukan hal-hal yang amoral. Mereka merasa mendapat pembenaran dari sekitar….
Jadilah remaja yang dasarnya lemah iman ini semakin bebas aja mau melakukan hal-hal yang amoral. Mereka merasa mendapat pembenaran dari sekitar. Apalagi dari pihak berwenang dalam hal ini control Negara, juga sangat lemah. Selama tak ada pasal pengaduan sikap seseorang melanggar atau mengganggu orang lain, maka pezina tak bisa dijerat undang-undang yang notabene memang mengadopsi dari hokum pidana Belanda. Selama masing-masing pezina melakukannya suka sama suka, tak ada hokum yang bisa menjerat perilaku asusila mereka.
Apalagi akhir-akhir ini penggiat gaul bebas semakin giat saja menolak RUU pornografi dan pornoaksi. Dengan berbagai dalih mereka mengatasnamakan pengekangan terhadap kebebasan berekspresi. Belum lagi di pihak lain, mereka juga gencar membagikan kondom gratis bagi para pemuda. Kondisi ini diperparah dengan tayangan TV dan sinetron yang semuanya nyaris mengumbar aurat dan membangkitkan syahwat para pemirsanya. Bahkan film Virgin pun dibuat dengan alasan untuk mengingatkan remaja tentang bahaya gaul bebas. Tapi bukannya malah ingat, tuh film malah mengumbar aurat dan membikin remaja mupeng (muka pengen) untuk coba-coba. Waduh…lengkap sudah arah penodaan kaum muda ini.
Senin, 25 April 2011
Jangan berkunjung ke Pulau Komodo dengan Baju Merah atau Saat Haid..
Jika anda berkunjung ke Pulau Komodo hendaknya tetap waspada di tempat habitat kadal raksasa tersebut. Butuh waktu 1 jam 25 menit jika menggunakan speed boat, atau empat jam dengan perahu kayu dari labuhan Bajo.
Setiap berangkat ke pulau komodo, pemandu di sini pasti akan mengingatkan soal kostum. Dari awal sebelum berangkat kita diwanti-wanti agar tidak mengenakan baju merah. Sementara bagi perempuan yang sedang haid (datang bulan) disarankan untuk tidak berangkat.
Mengapa ini begitu ditekankan? Penciuman hewan reptil yang satu ini sangat tajam terhadap aroma darah dan amis.
Herman pemandu lokal menerangkan mengapa pemakaian baju warna merah benar-benar diingatkan saat berada di Pulau Komodo? Menurut pria yang sudah empat tahun menjadi petugas jagawana (ranger) pernah suatu ketika wisatawan asal Jepang berpakaian merah ternyata menjadi incaran komodo.
Herman menceritakan, saat gadis Jepang itu melagkah di depan sekelompok komodo, satu persatu komodo mengikuti geraknya. Pertama dengan mata mereka, kemudian dengan kepala mereka. Tiba-tiba satu ekor melenggang bergerak ke arahnya dan yang lain mengikuti.
Melihat gelagaat yang tidak baik petugas jagawana meminta gadis kembali ke perahu sementara petugas jagawana menghalangi sang Komodo dengan tongkat panjang dan ujungnya bercabang.
"Mungkin gadis itu akan menstrusi jadi ada bau darah dari tubuhnya. Selain itu baju merah mencolok merangsang naluri komodo untuk menyerang," jelas Herman.
Menurutnya, ada cerita yang lebih seram lagi. Sekitar 1974 ada wisatawan asing harus mati dicabik-cabik komodo karena terlepas dari rombongan dan lepas dari pantauan petugas jagawana.
Nah, paham kan mengapa warna merah dan perempuan haid haram menginjakkan kaki ke pulau komodo?
Mendengar cerita diatas,agan-agan jgn takut untuk berkunjung ke pulau komodo..walaupun demikian kita harus bangga karena pulau komodo telah masuk nominasi keajaiban dunia....
sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6509626
Sejarah Patung Pancoran

Versi A
Monumen Patung Dirgantara atau lebih dikenal dengan nama Patung Pancoran adalah salah satu monumen patung yang terdapat di Jakarta. Letak monumen ini berada di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Tepat di depan kompleks perkantoran Wisma Aldiron Dirgantara yang dulunya merupakan Markas Besar TNI Angkatan Udara. Posisinya yang strategis karena merupakan pintu gerbang menuju Jakarta bagi para pendatang yang baru saja mendarat di Bandar Udara Halim Perdanakusuma.
Patung ini dirancang oleh Edhi Sunarso sekitar tahun 1964 - 1965 dengan bantuan dari Keluarga Arca Yogyakarta. Sedangkan proses pengecorannya dilaksanakan oleh Pengecoran Patung Perunggu Artistik Dekoratif Yogyakarta pimpinan I Gardono. Berat patung yang terbuat dari perunggu ini mencapai 11 Ton. Sementara tinggi patung itu sendiri adalah 11 Meter, dan kaki patung mencapai 27 Meter. Proses pembangunannya dilakukan oleh PN Hutama Karya dengan IR. Sutami sebagai arsitek pelaksana.
Pengerjaannya sempat mengalami keterlambatan karena peristiwa Gerakan 30 September PKI di tahun 1965.
Rancangan patung ini berdasarkan atas permintaan Bung Karno untuk menampilkan keperkasaan bangsa Indonesia di bidang dirgantara. Penekanan dari desain patung tersebut berarti bahwa untuk mencapai keperkasaan, bangsa Indonesia mengandalkan sifat-sifat Jujur, Berani dan Bersemangat
Sumber dari: Wikipedia
Versi B
Patung Pancoran semula dikenal sebagai Patung Dirgantara. Dibangun oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno, demi kebanggaan rakyat menjadi manusia Indonesia. Gatot Kaca Mental Bentolo yang menjejak terbang dan tinggal landas—menuju Tebet. Soekarno juga yang memeragakan dirinya sebagai model, sebelum pematung asal Yogyakarta, Edhi Sunarso membuatnya. “Berulang-ulang sampai beliau suka, baru maketnya dikerjakan.” ujarnya.
Pengerjaan patung sebenarnya selesai pada 1964 di Yogyakarta, namun sempat terhenti ketika terjadi Gerakan 30 September 1965. Pemerintah baru membayar sekitar 5 juta dari total dana 12 juta yang sementara ditanggung oleh Edhi Sunarso. Inilah monumen terakhir yang tak pernah diresmikan oleh Soekarno karena beliau terlanjur sakit lalu wafat. Biayanya tak pernah dilunasi pemerintah, walau Soekarno sempat menjual mobilnya, namun hanya 1 juta, sama sekali tidak menutupi biaya.
Patung yang pernah dianggap monumen cukil mata Gerwani oleh para anti-Soekarno, kini terjepit dua jalan layang, dan untuk sementara menanti kebijakan “Pemugaran dan Relokasi Monumen Dirgantara”. Pilihan pemugaran antara lain: meninggikan pedestal hingga 10 meter, memindahkan patung ke sebelah selatan (lebih mudah mengubah situs daripada menghancurkan jalan layang), memindahkannya ke sudut bekas Markas Besar Angkatan Udara, atau dibiarkan saja (yang mungkin lebih baik, mencerminkan kesendiriannya yang lalu ditemani satu, dua jalan layang, sampai perubahan ajaib lainnya).
Apakah patung Pancoran tak cukup lepas landas mengejar gejolak kotanya? Atau perencanaan kota Jakarta yang tak pernah selaras? Cukup menghargai situs hanya dengan—seandainya—tidak menghilangkannya? Jika dulu Soekarno sampai menjual mobilnya demi menutupi biayanya, kini patung itu terjepit dua jalan layang karena orang Jakarta punya terlalu banyak mobil. Apapun yang terjadi, seperti segala yang mungkin di kota ini, semoga Gatot Kaca tetap mengarah Tebet. Setidaknya menyisakan sesuatu bagi saya, akan bagaimana seorang ayah pernah mengenang kotanya sendiri dan menanamkan ingatan itu pada saya sampai sekarang.
Sumber dari: Karbon Journal
Kamis, 14 April 2011
...Apa Itu Ilmu...
Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Ilmu bukan sekedar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.
Contoh: Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (materiil saja) atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika membatasi lingkup pandangannya ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang kongkrit. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jauhnya matahari dari bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi sesuai untuk menjadi perawat.
...Penyebab Perubahan Kebudayaan...
Sebab kedua terjadinya perubahan di dalam budaya adalah oleh perubahan lingkungan alam dan lingkungan fisik tempat budaya itu berada. Masyarakat yang hidupnya terbuka, yang berada di dalam jalur-jalur hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan lain, cenderung berubah lebih cepat.
Perubahan ini selain karena jumlah penduduk dan komposisinya, juga karena adanya difusi kebudayaan, penemuan-penemuan baru khususnya di bidang teknologi dan inovasi. Selain itu proses akulturasi di dalam sejarah kebudayaan yang terjadi pada masa silam juga bisa mempengaruhi terjadinya perubahan budaya. Oleh sebab itu proses akulturasi bisa berdampak positif dan juga negaatif di dalam suatu kebudayaan, khususnya dalam perubahan budaya itu sendiri.
...Kasih Adalah...
KASIH merupakan suatu ungkapan yang berasal dari dalam hati seseorang. Ketulusan dari dalam diri untuk saling berbagi. Rasa kasih sayang, perhatian, dan cinta, tertuang dalam satu kata, yaitu "kasih". Sebenarnya kasih tidak terlalu jauh bebeda dengan cinta. Bagi saya, cinta merupakan suatu perasaan "sangat" menyayangi dan tidak mau mengenal apa arti "kehilangan". Sedangkan kasih merupakan suatu luapan perasaan simpati, empati, (ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain). karna kasih merupakan suatu ketulusan. Hal ini tidak memandang siapapun, ini menunjukkan bagaimana cara kita untuk membahagiakan orang lain atau bagaimana cara kita membagi kebahagiaan yang kita miliki.
Mengucapkan kata "kasih", memanglah mudah. Tetapi apa bisa kita melakukan semuanya dengan "ketulusan"?
Yang harus diketahui, kedalaman makna kasih tidak akan mampu ditelusuri hanya dengan akal pikiran dan rasa. Ini semua perlu dilakukan dengan sebuah bukti atau sikap, agar orang yang kita kasihi merasa dikasihi dengan ketulusan yang kita berikan. Yang perlu di ingat, kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk tahu apa itu kasih. Karna makna kasih bagi setiap orang terletak pada versi yang berbeda-beda. Cara menunjukkan orang terkasih mereka pun dilakukan dengan cara yang berbeda-beda.
Sebagian kecil cara menunjukkan kasih:
* Verbal : menggunakan kata-kata.
Banyak orang yang menunjukkan perasaan kasih mereka dengan verbal(komunikasi verbal). Hanya lewat ucapan, dan tidak banyak menunjukkan dengan suatu sikap atau bukti. Misal, kegombalan yang dilakukan seorang laki-laki kepada wanita yang ia sayangi atau ia kasihi. Lelaki tersebut hanya menggunakan ucapan "seadanya" dibandingkan dengan suatu gerakan yang menunjukkan bukti bahwa ia memang mengasihi wanita itu. Usaha yang dilakukan lelaki ini tergolong sangat sedikit.
* Non verbal : menggunakan gerakan atau gesture.
Banyak juga orang yang menggunakan aksi non verbal ini untuk menunjukkan rasa kasih yang dimiliki. Biasanya orang seperti ini tidak suka basi-basi. Yang dilakukan merupakan suatu bukti nyata, dari apa yang ia rasakan. Kalau versi verbal menggunakan kata-kata, sebaliknya non verbal lebih menggunakan gerakan untuk menujukkan perasaannya.Cara ini akan lebih terlihat menjanjikan jika dibandingkan dengan verbal, walaupun makna/cara dari keduanya tersebut tidak jauh berbeda. Ini semua kembali lagi kepada individu masing-masing untuk mengutarakan apa arti kasih bagi mereka, dan hak mereka bahwa cara apa yang akan ia tunjukkan untuk menunjukkan kasih pada orang yang mereka kasihi.
Hukum Kasih
"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Matius 22:37-39)
Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. ia tidak bersuka cita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.Kasih tidak berkesudahan, nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti, pengetahuan akan lenyap. (1 Korintus 13 : 1-8)
