Senin, 25 April 2011

Jangan berkunjung ke Pulau Komodo dengan Baju Merah atau Saat Haid..

Komodo (Varunas Komodiensis) kini jadi sorotan dunia. Banyak keeksotisan alam dijumpaii. Namun anda harus memperhatikan betul aturan di pulau yang ada di wilayah Mangarai Barat, Nusa Tengara Timur (NTT) ini.

Jika anda berkunjung ke Pulau Komodo hendaknya tetap waspada di tempat habitat kadal raksasa tersebut. Butuh waktu 1 jam 25 menit jika menggunakan speed boat, atau empat jam dengan perahu kayu dari labuhan Bajo.

Setiap berangkat ke pulau komodo, pemandu di sini pasti akan mengingatkan soal kostum. Dari awal sebelum berangkat kita diwanti-wanti agar tidak mengenakan baju merah. Sementara bagi perempuan yang sedang haid (datang bulan) disarankan untuk tidak berangkat.

Mengapa ini begitu ditekankan? Penciuman hewan reptil yang satu ini sangat tajam terhadap aroma darah dan amis.

Herman pemandu lokal menerangkan mengapa pemakaian baju warna merah benar-benar diingatkan saat berada di Pulau Komodo? Menurut pria yang sudah empat tahun menjadi petugas jagawana (ranger) pernah suatu ketika wisatawan asal Jepang berpakaian merah ternyata menjadi incaran komodo.

Herman menceritakan, saat gadis Jepang itu melagkah di depan sekelompok komodo, satu persatu komodo mengikuti geraknya. Pertama dengan mata mereka, kemudian dengan kepala mereka. Tiba-tiba satu ekor melenggang bergerak ke arahnya dan yang lain mengikuti.

Melihat gelagaat yang tidak baik petugas jagawana meminta gadis kembali ke perahu sementara petugas jagawana menghalangi sang Komodo dengan tongkat panjang dan ujungnya bercabang.

"Mungkin gadis itu akan menstrusi jadi ada bau darah dari tubuhnya. Selain itu baju merah mencolok merangsang naluri komodo untuk menyerang," jelas Herman.

Menurutnya, ada cerita yang lebih seram lagi. Sekitar 1974 ada wisatawan asing harus mati dicabik-cabik komodo karena terlepas dari rombongan dan lepas dari pantauan petugas jagawana.

Nah, paham kan mengapa warna merah dan perempuan haid haram menginjakkan kaki ke pulau komodo?


Mendengar cerita diatas,agan-agan jgn takut untuk berkunjung ke pulau komodo..walaupun demikian kita harus bangga karena pulau komodo telah masuk nominasi keajaiban dunia....


sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6509626

Sejarah Patung Pancoran




Versi A



Monumen Patung Dirgantara atau lebih dikenal dengan nama Patung Pancoran adalah salah satu monumen patung yang terdapat di Jakarta. Letak monumen ini berada di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Tepat di depan kompleks perkantoran Wisma Aldiron Dirgantara yang dulunya merupakan Markas Besar TNI Angkatan Udara. Posisinya yang strategis karena merupakan pintu gerbang menuju Jakarta bagi para pendatang yang baru saja mendarat di Bandar Udara Halim Perdanakusuma.

Patung ini dirancang oleh Edhi Sunarso sekitar tahun 1964 - 1965 dengan bantuan dari Keluarga Arca Yogyakarta. Sedangkan proses pengecorannya dilaksanakan oleh Pengecoran Patung Perunggu Artistik Dekoratif Yogyakarta pimpinan I Gardono. Berat patung yang terbuat dari perunggu ini mencapai 11 Ton. Sementara tinggi patung itu sendiri adalah 11 Meter, dan kaki patung mencapai 27 Meter. Proses pembangunannya dilakukan oleh PN Hutama Karya dengan IR. Sutami sebagai arsitek pelaksana.

Pengerjaannya sempat mengalami keterlambatan karena peristiwa Gerakan 30 September PKI di tahun 1965.

Rancangan patung ini berdasarkan atas permintaan Bung Karno untuk menampilkan keperkasaan bangsa Indonesia di bidang dirgantara. Penekanan dari desain patung tersebut berarti bahwa untuk mencapai keperkasaan, bangsa Indonesia mengandalkan sifat-sifat Jujur, Berani dan Bersemangat

Sumber dari: Wikipedia



Versi B


Patung Pancoran semula dikenal sebagai Patung Dirgantara. Dibangun oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno, demi kebanggaan rakyat menjadi manusia Indonesia. Gatot Kaca Mental Bentolo yang menjejak terbang dan tinggal landas—menuju Tebet. Soekarno juga yang memeragakan dirinya sebagai model, sebelum pematung asal Yogyakarta, Edhi Sunarso membuatnya. “Berulang-ulang sampai beliau suka, baru maketnya dikerjakan.” ujarnya.

Pengerjaan patung sebenarnya selesai pada 1964 di Yogyakarta, namun sempat terhenti ketika terjadi Gerakan 30 September 1965. Pemerintah baru membayar sekitar 5 juta dari total dana 12 juta yang sementara ditanggung oleh Edhi Sunarso. Inilah monumen terakhir yang tak pernah diresmikan oleh Soekarno karena beliau terlanjur sakit lalu wafat. Biayanya tak pernah dilunasi pemerintah, walau Soekarno sempat menjual mobilnya, namun hanya 1 juta, sama sekali tidak menutupi biaya.

Patung yang pernah dianggap monumen cukil mata Gerwani oleh para anti-Soekarno, kini terjepit dua jalan layang, dan untuk sementara menanti kebijakan “Pemugaran dan Relokasi Monumen Dirgantara”. Pilihan pemugaran antara lain: meninggikan pedestal hingga 10 meter, memindahkan patung ke sebelah selatan (lebih mudah mengubah situs daripada menghancurkan jalan layang), memindahkannya ke sudut bekas Markas Besar Angkatan Udara, atau dibiarkan saja (yang mungkin lebih baik, mencerminkan kesendiriannya yang lalu ditemani satu, dua jalan layang, sampai perubahan ajaib lainnya).

Apakah patung Pancoran tak cukup lepas landas mengejar gejolak kotanya? Atau perencanaan kota Jakarta yang tak pernah selaras? Cukup menghargai situs hanya dengan—seandainya—tidak menghilangkannya? Jika dulu Soekarno sampai menjual mobilnya demi menutupi biayanya, kini patung itu terjepit dua jalan layang karena orang Jakarta punya terlalu banyak mobil. Apapun yang terjadi, seperti segala yang mungkin di kota ini, semoga Gatot Kaca tetap mengarah Tebet. Setidaknya menyisakan sesuatu bagi saya, akan bagaimana seorang ayah pernah mengenang kotanya sendiri dan menanamkan ingatan itu pada saya sampai sekarang.

Sumber dari: Karbon Journal

Kamis, 14 April 2011

...Apa Itu Ilmu...

Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

Ilmu bukan sekedar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.

Contoh: Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (materiil saja) atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika membatasi lingkup pandangannya ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang kongkrit. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jauhnya matahari dari bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi sesuai untuk menjadi perawat.

...Penyebab Perubahan Kebudayaan...

Budaya Merupakan sesuatu yang tidak statis, tetapi dinamis. Maksudnya Budaya dapat berubah seiring perkembangan zaman yang ada. Namu, tidak semua unsur-unsur yang ada di dalam budaya tersebut berubah. Melainkan unsur-unsur terkecil saja dari budaya itu. Tetapi, terkadang unsur yang berubah itu dapat membuat dampak yang signifikan terhadap buday itu sendiri.

Budaya tersebut dapat berubah secara perlahan maupun secara tiba-tiba. Tergantung seberapa lama dan seberapa kuat budaya tersebut. Hal-hal yang menyebabkan suatu budaya berubah atau goyah dari budaya aslinya adalah, pertama, sebab budaya berubah bisa dari masyarakat dan kebudayaan itu sendiri. Seperti perubahan jumlah dan komposisi penduduk. Maksudnya jika suatu daerah yang mempunyai jumlah penduduk yang bertambah, itu akan mempengaruhi kebudayaannya. Karena seiring perkembangan zaman dan perkembangan penduduk, budaya itu sendiri pun pasti akan berubah.

Sebab kedua terjadinya perubahan di dalam budaya adalah oleh perubahan lingkungan alam dan lingkungan fisik tempat budaya itu berada. Masyarakat yang hidupnya terbuka, yang berada di dalam jalur-jalur hubungan dengan masyarakat dan kebudayaan lain, cenderung berubah lebih cepat.

Perubahan ini selain karena jumlah penduduk dan komposisinya, juga karena adanya difusi kebudayaan, penemuan-penemuan baru khususnya di bidang teknologi dan inovasi. Selain itu proses akulturasi di dalam sejarah kebudayaan yang terjadi pada masa silam juga bisa mempengaruhi terjadinya perubahan budaya. Oleh sebab itu proses akulturasi bisa berdampak positif dan juga negaatif di dalam suatu kebudayaan, khususnya dalam perubahan budaya itu sendiri.

...Kasih Adalah...

KASIH merupakan suatu ungkapan yang berasal dari dalam hati seseorang. Ketulusan dari dalam diri untuk saling berbagi. Rasa kasih sayang, perhatian, dan cinta, tertuang dalam satu kata, yaitu "kasih". Sebenarnya kasih tidak terlalu jauh bebeda dengan cinta. Bagi saya, cinta merupakan suatu perasaan "sangat" menyayangi dan tidak mau mengenal apa arti "kehilangan". Sedangkan kasih merupakan suatu luapan perasaan simpati, empati, (ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain). karna kasih merupakan suatu ketulusan. Hal ini tidak memandang siapapun, ini menunjukkan bagaimana cara kita untuk membahagiakan orang lain atau bagaimana cara kita membagi kebahagiaan yang kita miliki.
Mengucapkan kata "kasih", memanglah mudah. Tetapi apa bisa kita melakukan semuanya dengan "ketulusan"?
Yang harus diketahui, kedalaman makna kasih tidak akan mampu ditelusuri hanya dengan akal pikiran dan rasa. Ini semua perlu dilakukan dengan sebuah bukti atau sikap, agar orang yang kita kasihi merasa dikasihi dengan ketulusan yang kita berikan. Yang perlu di ingat, kita tidak bisa memaksakan orang lain untuk tahu apa itu kasih. Karna makna kasih bagi setiap orang terletak pada versi yang berbeda-beda. Cara menunjukkan orang terkasih mereka pun dilakukan dengan cara yang berbeda-beda.

Sebagian kecil cara menunjukkan kasih:

*
Verbal : menggunakan kata-kata.
Banyak orang yang menunjukkan perasaan kasih mereka dengan verbal(komunikasi verbal). Hanya lewat ucapan, dan tidak banyak menunjukkan dengan suatu sikap atau bukti. Misal, kegombalan yang dilakukan seorang laki-laki kepada wanita yang ia sayangi atau ia kasihi. Lelaki tersebut hanya menggunakan ucapan "seadanya" dibandingkan dengan suatu gerakan yang menunjukkan bukti bahwa ia memang mengasihi wanita itu. Usaha yang dilakukan lelaki ini tergolong sangat sedikit.

*
Non verbal : menggunakan gerakan atau gesture.
Banyak juga orang yang menggunakan aksi non verbal ini untuk menunjukkan rasa kasih yang dimiliki. Biasanya orang seperti ini tidak suka basi-basi. Yang dilakukan merupakan suatu bukti nyata, dari apa yang ia rasakan. Kalau versi verbal menggunakan kata-kata, sebaliknya non verbal lebih menggunakan gerakan untuk menujukkan perasaannya.Cara ini akan lebih terlihat menjanjikan jika dibandingkan dengan verbal, walaupun makna/cara dari keduanya tersebut tidak jauh berbeda. Ini semua kembali lagi kepada individu masing-masing untuk mengutarakan apa arti kasih bagi mereka, dan hak mereka bahwa cara apa yang akan ia tunjukkan untuk menunjukkan kasih pada orang yang mereka kasihi.


Hukum Kasih

"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Matius 22:37-39)


Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. ia tidak bersuka cita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.Kasih tidak berkesudahan, nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti, pengetahuan akan lenyap. (1 Korintus 13 : 1-8)